RSS

Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo – Jawa Timur

11 Mar

Pondok Pesantren, selama berabad-abad, telah menjadi sebuah institusi pendidikan yang memiliki peran cukup signifikan di Indonesia. Sebagai wadah penggemblengen generasi muslim, Pondok Pesantren tanpa henti menanamkan akhlaq dan adab, dan menjadi media transformasi ilmu pengetahuan. Pondok Modern Darussalam Gontor adalah salah satu Pondok Pesantren yang turut mewarnai dunia pendidikan Indonesia.

Terletak di sebuah desa di Jawa Timur yang bernama Gontor, Pondok Modern Darussalam Gontor mengerahkan segenap konsentrasi dan potensinya untuk dunia pendidikan Islam. Hal ini semakin dipertegas dengan tidak terlibatnya Pondok Modern Darussalam Gontor dalam politik praktis. Karena Pondok ini tidak berafiliasi kepada partai politik ataupun organisasi kemasyarakatan apapun, ia dapat secara independen menentukan langkahnya, sehingga memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam pendidikan dan pengajaran. “Pondok Modern di atas dan untuk semua golongan.” Demikian prinsip yang dipegang Pondok Modern Darussalam Gontor sejak pertama kali didirikan.

Dengan terbebasnya institusi ini dari muatan politis, pondok ini dapat lebih memfokuskan diri dalam menunaikan amanat pendidikan dan pengajaran yang berada di pundaknya. Iklim pendidikan yang lebih tenang dan kondusif pun tercipta, dengan didasari jiwa keikhlasan dan tanpa dipengaruhi oleh kepentingan apapun. Salah satu nikmat yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Bahwa instusi ini, dalam usianya yang ke-84, dapat terus meningkatkan peran dan eksistensinya dalam mendidik generasi muda muslim yang berkualitas.

Para alumninya kini bergerak dalam berbagai bidang; agama, sosial, kemasyarakatan, dan pemerintahan. Beberapa di antaranya meneruskan studi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, maupun di perguruan tinggi di negara-negara Timur Tengah dan Barat. Peran serta prestasi para alumni inilah yang mengharumkan nama Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai lembaga pendidikan Islam yang disegani di Asia Tenggara. Dan dengan dukungan mereka pula, pondok ini menjadi kokoh dan teguh dalam menghadapi pelbagai tantangan dan cobaan. Latar Belakang Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18.

Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok tersebut dipimpin oleh Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya. Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor. Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo.

Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk. Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan oleh generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari. Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat.

Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor.Mereka adalah; § KH. Ahmad Sahal (1901-1977) § KH. Zainuddin Fanani (1908-1967) § KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi. Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama *Tarbiyatul Athfal*.

Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah *Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah*, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah. Dalam perjalanannya, sebuah perguruan tinggi bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) didirikan pada 17 November 1963 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1383. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ini ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab, FakultasUshuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama, dan Akidah dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum, dan jurusan Manajemen Lembaga Keuangan Islam.

Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus sendiri di Demangan, Siman, Ponorogo. Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh: § KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi § KH. Hasan Abdullah Sahal § KH. Syamsul Hadi Abdan SEJARAH Pondok Tegalsari Pada paroh pertama abad ke-18, hiduplah seorang kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari, yaitu sebuah desa terpencil lebih kurang 10 KM ke arah selatan kota Ponorogo. Di tepi dua buah sungai, sungai Keyang dan sungai Malo, yang mengapit desa Tegalsari inilah Kyai Besari mendirikan sebuah pondok yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Tegalsari.

Dalam sejarahnya, Pondok Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di Pondok ini. Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya desa Jabung (Nglawu), desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini.

Alumni Pondok ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, dll. Sekadar menyebut sebagai contoh adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934). Dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Paku Buana II nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa. Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Paku Buana II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari.

Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Paku Buana II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam. Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah SWT mengabulkan doa Paku Buana II. Api pemberontakan akhirnya reda. Paku Buana II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Paku Buana II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya. Sejak itu nama Kyai yang alim ini dikenal dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari).

Sejak itu pula desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh beliau yang bernama Kyai Hasan Yahya. Seterusnya Kyai Hasan Yahya digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashari II yang kemudian digantikan oleh Kyai Hasan Anom. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, dari pengasuh satu ke pengasuh lain. Tetapi, pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Alkisah, pada masa kepemimpinan Kyai Khalifah, terdapat seorang santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang.

Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang kepadanya. Maka setelah santri Sulaiman Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai untuk memimpin pesantren saat beliau berhalangan. Bahkan sang Kyai akhirnya memberikan kepercayaan kepada santri dan menantunya ini untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor. Pondok Gontor Lama Gontor adalah sebuah desa yang terletak lebih kurang 3 KM sebelah timur Tegalsari dan 11 KM ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun, pemabuk, dan sebagainya. Di tempat inilah Kyai muda Sulaiman Jamaluddin diberi amanat oleh mertuanya untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari.

Dengan 40 santri yang dibekalkan oleh Kyai Khalifah kepadanya, maka berangkatlah rombongan tersebut menuju desa Gontor untuk mendirikan Pondok Gontor. Pondok Gontor yang didirikan oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang dengan pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putera beliau yang bernama Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak juga santri yang datang dari daerah Pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putera beliau bernama Santoso Anom Besari. Kyai Santoso adalah generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama. Pada kepemimpinan generasi ketiga ini Gontor Lama mulai surut; kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Di antara sebab kemundurannya adalah karena kurangnya perhatian terhadap kaderisasi. Jumlah santri hanya tinggal sedikit dan mereka belajar di sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai seperti waktu-waktu sebelumnya.

Walaupun Pondok Gontor sudah tidak lagi maju sebagaimana pada zaman ayah dan neneknya, Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama di desa Gontor. Ia tetap menjadi figur dan tokoh rujukan dalam berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut, Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Dengan wafatnya Kyai Santoso ini, masa kejayaan Pondok Gontor Lama benar-benar sirna. Saudara-saudara Kyai Santoso tidak ada lagi yang sanggup menggantikannya untuk mempertahankan keberadaan Pondok. Yang tinggal hanyalah janda Kyai Santoso beserta tujuh putera dan puterinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan Masjid tua warisan nenek moyangnya.

Tetapi rupanya Nyai Santoso tidak hendak melihat Pondok Gontor pupus dan lenyap ditelan sejarah. Ia bekerja keras mendidik putera-puterinya agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu menghidupkan kembali Gontor yang telah mati. Ibu Nyai Santoso itupun kemudian memasukkan tiga puteranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan lain untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal (anak kelima), Zainuddin Fannani (anak keenam), dan Imam Zarkasyi (anak bungsu). Sayangnya, Ibu yang berhati mulia ini tidak pernah menyaksikan kebangkitan kembali Gontor di tangan ketiga puteranya itu. Beliau wafat saat ketiga puteranya masih dalam masa belajar. Sepeninggal Kyai Santoso Anom Besari dan seiring dengan runtuhnya kejayaan Pondok Gontor Lama, masyarakat desa Gontor dan sekitarnya yang sebelumnya taat beragama tampak mulai kehilangan pegangan. Mereka berubah menjadi masyarakat yang meninggalkan agama dan bahkan anti agama. Kehidupan mo-limo: maling (mencuri), madon (main perempuan), madat (menghisap seret), mabuk, dan main (berjudi) telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Ini ditambah lagi dengan mewabahnya tradisi gemblakan di kalangan para warok. Demikianlah suasana dan tradisi kehidupan masyarakat Gontor dan sekitarnya setelah pudarnya masa kejayaan Pondok Gontor Lama.

Berdirinya Pondok Gontor Ketiga putera Ibu Nyai Santoso yang dikirimkan ke beberapa lembaga pendidikan terus memperdalam ilmu. Ibu Nyai Santoso tidak pernah berhenti berdoa kepada Allah SWT agar ketiga puteranya itu kelak dapat menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama yang telah runtuh itu. Berkat pendidikan, pengarahan, dan do’a yang tulus dan ikhlas dari sang Ibu serta kesungguhan ketiga puteranya itu, akhirnya Allah SWT membuka hati ketiga putera itu untuk menghidupkan kembali pondok pesantren yang telah mati itu. Pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345, di dalam peringatan Maulid Nabi, di hadapan masyarakat yang hadir pada kesempatan itu, dideklarasikan pembukaan kembali Pondok Gontor.

Pembukaan Tarbiyatul Athfal, 1926 Langkah pertama untuk menghidupkan kembali Pondok Gontor adalah dengan membuka Tarbiyatul Athfal (T.A.); suatu program pendidikan anak-anak untuk masyarakat Gontor. Materi, prasarana, dan sarana pendidikannya sangat sederhana. Semuanya dilakukan dengan modal seadanya. Tetapi dengan kesungguhan, keuletan, kesabaran, dan keikhlasan pengasuh Gontor Baru, usaha ini telah dapat membangkitkan kembali semangat belajar masyarakat desa Gontor. Program inipun pada berikutnya tidak hanya diikuti oleh anak-anak, orang dewasa juga ikut belajar di tempat ini. Peserta didiknya juga tidak terbatas pada masyarakat desa Gontor, tetapi juga masyarakat desa sekitar. Para santri T.A. itu dididik langsung oleh Pak Sahal (panggilan populer untuk K.H. Ahmad Sahal). Dengan beralaskan tikar dan daun kelapa, pendidikan dilangsungkan pada siang dan malam.

Pada siang hari mereka belajar di bawah pepohonan di alam terbuka, sedangkan pada malam hari mereka belajar diterangi oleh lampu batok (tempurung kelapa). Berkat kegigihan dan keuletan beliau, pada tiga tahun pertama para santri yang belajar di Pondok Gontor telah mencapai jumlah 300. Mereka belajar tanpa dipungut biaya apapun. Bahkan tidak jarang pengasuh Pondok yang memenuhi keperluan sehari-hari mereka. Pada prinsipnya, tujuan utama pembelajaran di Tarbiyatul Athfal adalah penyadaran siswa terhadap pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama. Pada usia tujuh tahun, siswa T.A. telah mencapai 500 orang putra dan putri. Fasilitas belajar-mengajar belum mencukupi sehingga mereka belajar di rumah-rumah penduduk dan sebagian masih di alam terbuka di bawah pepohonan. Tekad membuat bangunan untuk ruang kelas semakin menguat, tetapi dana tidak ada, karena selama sepuluh tahun pertama siswa tidak dipungut bayaran apapun. Untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan dibentuklah “Anshar Gontor”, yaitu orang-orang yang bertugas mencari dana di seluruh wilayah Jawa.

Selain itu para santri di dalam Pondok juga dilibatkan dalam pembuatan batu merah. Tarbiyatul Athfal terus berkembang seiring dengan meningkatnya minat masyarakat untuk belajar. Karena itu, setelah berjalan beberapa tahun, didirikanlah cabang-cabang Tarbiyatul Athfal di desa-desa sekitar Gontor. Madrasah-madrasah Tarbiyatul Athfal di desa-desa sekitar Gontor itu ditangani oleh para kader yang telah disiapkan secara khusus melalui kursus pengkaderan. Di samping membantu pendirian madrasah-madrasah TA tersebut, mutu TA di Gontor juga ditingkatkan agar para lulusannya memiliki kemampuan yang memadai untuk ikut berkiprah membina beberapa TA cabang yang ada. Untuk itu dibukalah jenjang pendidikan di atas TA yang diberi nama Sullamul Muta’allimin. Pembukaan Sullamu-l-Muta’allimin, 1932 Dengan semakin banyaknya siswa yang menyelesaikan pendidikan di TA dan adanya minat yang tinggi dari masyarakat untuk memperoleh pendidikan lebih lanjut, pada tahun 1932 Pengasuh Pondok Gontor membuka program lanjutan dari Tarbiyatul Athfal yang diberi nama “Sullamul Muta’allimin”. Pada tingkatan ini para santri diajari secara lebih dalam dan luas pelajaran fikih, hadis, tafsir, terjemah al-Qur’an, cara berpidato, cara membahas suatu persoalan, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru berupa ilmu jiwa dan ilmu pendidikan.

Di samping itu mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, gerakan kepanduan, dan lain-lain. Kegiatan ekstra kurikuler mendapat perhatian luar biasa dari pengasuh Pondok, sehingga setelah tiga tahun berdirinya Sullamul Muta’allimin telah berdiri pula berbagai gerakan dan barisan pemuda, antara lain: § Tarbiyatul Ikhwan (Organisasi Pemuda) § Tarbiyatul Mar’ah (Organisasi Pemudi) § Muballighin (Organisasi Juru Dakwah) § Bintang Islam (Gerakan Kepanduan) § Ri-Ba-Ta, yaitu Riyadlatul Badaniyah Tarbiyatul Athfal (Organisasi Olahraga) § Miftahussa’adah dengan “Mardi Kasampurnaan”. § Klub Seni Suara, dan § Klub Teater. Usaha Pengasuh Pondok untuk membangkitkan gairah masyarakat Gontor dan sekitarnya sudah tampak membuahkan hasil. Madrasah-madrasah yang menjadi cabang TA sudah banyak berdiri di desa-desa sekitar Gontor. Para murid dan alumni TA dan Sullamul Muta’allimin Gontor menjadi tulang punggung dari berlangsungnya proses belajar mengajar di madrasah-madrasah itu. Mengingat banyak madrasah Tarbiyatul Athfal yang telah dibuka, maka dibentuklah sebuah wadah yang menggabungkan seluruh TA itu, yaitu Taman Perguruan Islam (TPI) yang dipimpin langsung oleh Pak Sahal.

Menjelang usia 10 tahun pembukaan kembali Gontor, TPI telah mempunyai murid lebih dari 1000. Pembukaan Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah, 1936 Pondok Gontor yang telah dibuka kembali terus berkembang. Kehadiran TA telah membawa angin segar yang menggugah minat belajar masyarakat. Program pendidikan di TA pun berkembang. Jika pada awalnya TA hanya bermula dengan mengumpulkan anak-anak desa dan mengajari mereka mandi dan membersihkan diri serta cara berpakaian untuk menutupi aurat mereka, maka dalam satu dasawarsa kemudian lembaga ini telah berhasil mencetak para kader Islam dan muballigh di tingkat desa yang tersebar di sekitar Gontor. Melalui mereka nama Gontor menjadi lebih dikenal masyarakat. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati pengasuh pesantren yang baru dibuka kembali ini. Banyak sekali yang perlu disyukuri. Terlebih lagi setelah K.H. Imam Zarkasyi kembali dari belajarnya di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Jawa dan Sumatra pada tahun 1935. Beliau mulai ikut membenahi pendidikan di Pondok Gontor Baru ini. Kesyukuran tersebut ditandai dengan Peringatan atau “Kesyukuran 10 Tahun Pondok Gontor”. Acara kesyukuran dan peringatan menjadi semakin sempurna dengan diikrarkannya pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) atau Sekolah Guru Islam pada tanggal 19 Desember 1936.

Program pendidikan baru ini ditangani oleh K.H. Imam Zarkasyi, yang sebelumnya pernah memimpin sekolah serupa tetapi untuk perempuan, yaitu Mu’allimat Muhammadiyah di Padang Sidempuan, Sumatra Utara. Dalam peringatan 10 tahun ini pula tercetus nama baru untuk Pondok Gontor yang dihidupkan kembali ini, yaitu Pondok Modern Darussalam Gontor. Nama ini merupakan sebutan masyarakat yang kemudian melekat pada Pondok Gontor yang nama aslinya Darussalam, artinya Kampung Damai. Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) adalah Sekolah Pendidikan Guru Islam yang modelnya hampir sama dengan Sekolah Noormal Islam di Padang Panjang; di mana Pak Zar menempuh jenjang pendidikan menengahnya. Model ini kemudian dipadukan dengan model pendidikan pondok pesantren. Pelajaran agama, seperti yang diajarkan di beberapa pesantren pada umumnya, diajarkan di kelas-kelas. Namun pada saat yang sama para santri tinggal di dalam asrama dengan mempertahankan suasana dan jiwa kehidupan pesantren. Proses pendidikan berlangsung selama 24 jam. Pelajaran agama dan umum diberikan secara seimbang dalam jangka 6 tahun. Pendidikan ketrampilan, kesenian, olahraga, organisasi, dan lain-lain merupakan bagian dari kegiatan kehidupan santri di Pondok. Pada tahun pertama pembukaan program ini, sambutan masyarakat belum memuaskan. Bahkan tidak sedikit kritik dan ejekan yang dialamatkan kepada program baru yang diterapkan oleh Gontor.

Sistem pendidikan semacam yang diterapkan oleh Gontor tersebut memang masih sangat asing. Sistem belajar secara klasikal, penggunaan kitab-kitab tertentu yang tidak umum dipakai di pesantren, pemberian pelajaran umum, guru dan santri memakai celana panjang dan dasi. Demikian juga pemakaian Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan bahkan juga Bahasa Belanda, ketika itu masih dianggap tabu. Sebab Bahasa Arab adalah bahasa Islam sedangkan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda adalah bahasa orang kafir. Masih asingnya sistem pendidikan baru ini menyebabkan merosotnya jumlah santri Gontor saat itu. Santri Gontor yang sebelumnya berjumlah ratusan kini hanya tinggal 16 orang. K

eadaan ini tidak mematahkan semangat Pak Sahal dan Pak Zar. Dalam keadaan demikian Pak Zar bertekad dan berucap: “Biarpun tinggal satu saja dari yang 16 orang ini, program akan tetap akan kami jalankan sampai selesai, namun yang satu itulah nantinya yang akan mewujudkan 10…100 hingga 1000 orang.” Bahkan suatu saat Pak Zar pernah berujar: “Seandainya saya tidak berhasil mengajar dengan cara ini, saya akan mengajar dengan pena.” Pak Sahal juga tanpa ragu-ragu berdoa: “Ya Allah, kalau sekiranya saya akan melihat bangkai Pondok saya ini, panggillah saya lebih dahulu kehadirat-Mu untuk mempertanggung jawabkan urusan ini.” Allah rupanya mendengar doa dan tekad kakak-beradik itu. Pada tahun kedua, mulai datang para santri dari Kalimantan, Sumatra, dan dari berbagai pelosok tanah Jawa. Gontor mulai ramai oleh kehadiran para santri yang semakin banyak. Akhirnya, setelah tiga tahun berjalan, Pondok Gontor dibanjiri oleh para santri dari berbagai kota dan pulau dengan tingkat pengetahuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah baik pengetahuan agamanya tetapi lemah dalam pengetahuan umum dan ada pula yang sebaliknya. Untuk mengatasi persoalan ini dibukalah kelas khusus untuk menampung mereka, yaitu Voorklas atau Kelas Pendahuluan.

Setelah perjalanan tiga tahun, pelajaran sudah harus ditingkatkan, maka dibukalah tingkatan yang lebih tinggi bernama Bovenbow. Jumlah santri yang semakin banyak dan pembukaan kelas baru ini menimbulkan persoalan baru, yaitu terbatasnya jumlah guru. Dalam kondisi demikian ini tidak jarang Pak Zar mengajar 2 kelas dalam satu jam pelajaran. Namun pada tahun kelima datanglah seorang guru muda bernama R. Muin yang cakap berbahasa Belanda. R. Muin ini kemudian diserahi mengajar Bahasa Belanda untuk murid-murid kelas I tingkat atas, atau kelas IV. Setelah berjalan 5 tahun, pengembangan tingkatan pendidikan di KMI menjadi sebagai berikut : a. Program Onderbow, lama belajar 3 tahun. b. Program Bovenbow, lama belajar 2 tahun. Kepemimpinan Generasi Pertama Terciptanya “Hymne Oh Pondokku” dan Peringatan 15 Tahun Tahun ke-5 berdirinya KMI merupakan tahun bersejarah bagi Pondok Modern Darussalam Gontor dengan terciptanya “Hymne Oh Pondokku.” Lagu hymne ini diciptakan R. Mu’in dan liriknya diciptakan Husnul Haq, keduanya guru KMI. Pada tanggal 1-10 Januari 1942, Pondok Modern Darussalam Gontor mengadakan Peringatan 15 Tahun Berdirinya Pondok yang disebut Fijftien Jarige Jubelium.

Tujuan peringatan ini adalah mensyukuri segala kemajuan yang telah dicapai. Semula Peringatan ini akan diadakan tahun 1941, tetapi karena situasi tidak aman dengan pecahnya Perang Dunia II, Peringatan tersebut diundur hingga tahun 1942. Masa Penjajahan Jepang Dengan berkecamuknya perang Belanda-Jepang untuk memperebutkan Indonesia, terputuslah jalur komunikasi luar Jawa dengan Jawa. Akibatnya santri Gontor yang berasal dari luar Jawa tidak mendapatkan kiriman dari orang tua mereka. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, Pengasuh dan Direktur menjual kekayaan pribadi mereka. Usaha inipun masih belum bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari santri, maka didirikanlah Dapur Umum dan dibentuk pengurusnya yang disebut UPPIPOM (Usaha Penolong Pelajar Islam Pondok Modern) yang bertugas mencari dana bagi kepentingan para santri. Tahun 1943/1944 dengan propaganda perang suci “Perang Asia Timur Raya”, Jepang mewajibkan pemuda ikut perang, maka sekolah-sekolah harus ditutup, termasuk KMI Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun lembaga pendidikan yang bernama pondok pesantren dibiarkan tetap hidup. Karena itu pembelajaran di KMI dilaksanakan di dalam kamar para santri secara sembunyi-sembunyi. Dengan cara demikian Pondok Modern Darussalam Gontor tidak dikategorikan sebagai sekolah, sehingga tidak wajib ditutup. Perang Merebut Kemerdekaan dan Pemberontakan PKI 1948 Pada saat perang merebut kemerdekaan negeri ini, santri Gontor banyak yang terlibat. Mereka masuk dalam pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

Setelah perang agak reda, 1946, Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat itu jumlah santri Gontor tinggal belasan saja. Setelah kacau akibat peperangan, program KMI mulai ditata kembali. Pada 1947 organisasi pelajar Roudlatul Muta’llimin dilebur dan diganti dengan PII (Pelajar Islam Indonesia) yang saat itu baru berusia 3 bulan. PII dipilih karena ia tidak berafiliasi kepada satu parpol atau golongan tertentu, sesuai dengan prinsip Gontor Berdiri di atas dan untuk semua golongan. Tahun 1948 Pondok Modern Darussalam Gontor diguncang oleh pemberontakan PKI pimpinan Muso yang dikenal dengan sebutan “Madiun Affair”. Pada saat itu Pondok terpaksa dikosongkan. Sejumlah 200 santri secara bergelombang meninggalkan Pondok untuk menyusun taktik perlawanan dan gelombang terakhir diikuti oleh pengasuh dan direktur mereka. Pada 19 Desember 1948 Belanda kembali menyerang Indonesia. Pondok lagi-lagi terpaksa ditinggalkan para santrinya untuk ikut bergerilya mengangkat senjata bergabung dengan Corp Pelajar.

Pembentukan IKPM Jumlah alumni KMI Pondok Modern Darussalam Gontor mulai banyak, mereka tersebar di masyarakat dan bergerak dalam berbagai bidang kegiatan. Para alumni itu kemudian dihimpun dalam suatu wadah persaudaraan yang disebut Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM). Organisasi alumni Gontor ini lahir tanggal 17 Desember 1949 di tengah berlangsungnya Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta. Pengikraran secara resmi IKPM dilakukan pada Peringatan Seperempat Abad Pondok Modern, 29 Oktober 1951. Peringatan Seperempat Abad Peringatan Seperembat Abad Pondok (27 Oktober – 4 November 1951) dilaksanakan secara meriah dengan rentetan acara bermacam-macam. Pada pembukaan acara tersebut Pak Sahal menyampaikan sambutan di antaranya berisi ikrar bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor adalah Milik Ummat Islam Seluruh Dunia, karena itu maju mundurnya Pondok diserahkan kepada ummat Islam. Peringatan Empat Windu dan Pewakafan Pondok Momen bersejarah bagi terwujudnya niat mewakafkan Pondok kepada Ummat Islam terjadi pada Peringatan Empat Windu Pondok Modern Darussalam Gontor, 11-17 Oktober 1958. Pada saat itu, 12 Oktober 1958, Trimurti (K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani, dan K.H. Imam Zarkarsyi) sebagai pendiri Pondok mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada IKPM yang diwakili oleh 15 orang.

Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor ketika itu terdiri dari tanah kering seluas 1,740 ha (Kampus Pondok), tanah basah seluas 16,851 ha, dan gedung sebanyak 12 buah; Masjid, Madrasah, Indonesia I, Indonesia II, Indonesia III, Tunis, Gedung Baru, Abadi, Asia Baru, PSA, BPPM, dan Darul Kutub. Pembentukan YPPWPM Untuk memelihara dan mengembangkan kekayaan yang diwakafkan ini dan untuk menangani berbagai persoalan berkaitan dengan pendanaan Pondok Modern, didirikanlah Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM), tanggal 18 Maret 1959. Pembukaan Perguruan Tinggi Pesantren Setelah seperempat abad KMI berdiri dibukalah Perguruan Tinggi di Gontor dengan nama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD), tanggal 17 Nopember 1963. Nama PTD ini kemudian berganti menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD) yang selanjutnya berganti menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Saat ISID memiliki tiga Fakultas: Fakultas Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pengajaran Bahasa Arab, Fakultas Ushuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama dan Akidah dan Pemikiran Islam (Filsafat), dan Fakultas Syariah dengan jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum dan jurusan Ekonomi Islam. Sejak tahun 1996 ISID telah memiliki kampus tersendiri di Demangan, Siman, Ponorogo.

Peringatan Lima Windu dan Peristiwa Sembilan Belas Maret Pada Tahun 1967 diadakan Peringatan Lima Windu Pondok Modern Darussalam Gontor. Di antara acara penting dalam peringatan ini adalah wisuda perdana sarjana PerguruanTinggi Darussalam. Pada tahun ini juga terjadi tragedi yang disebut Persemar (Peristiwa Sembilan belas Maret). Sekelompok guru dan santri yang terprovokasi berusaha mengubah haluan Pondok dengan ide yang mereka sebut sendiri sebagai ide gila. Mereka berniat membunuh dan menyingkirkan pendiri dan sekaligus Pimpinan Pondok, kemudian memilih pimpinan yang mereka kehendaki dari para tokoh pembuat makar itu. Rupanya Allah tidak meridhoi usaha mereka dan mereka pun gagal. Persemar tampaknya menjadi pupuk bagi perjalanan sejarah Pondok kemudian. Setelah peristiwa itu Pondok berkembang dengan pesat dan minat masyarakat untuk belajar di Gontor semakin tinggi. Kesyukuran Setengah Abad dan Peresmian Masjid Jami’ Pesatnya perkembangan Pondok ini kemudian disyukuri dengan Perayaan Kesyukuran Setangah Abad, berlangsung tanggal 2-4 Maret 1978. Acara ini dihadiri oleh Presiden R.I. Soeharto yang sekaligus meresmikan Masji Jami’ Pondok.

Trimurti Wafat Tahun 1967 K.H. Zainuddin Fanani, salah seorang dari Trimurti Pendiri Pondok wafat. Kemudian disusul oleh K.H. Ahmad Sahal yang wafat tahun 1977. Delapan tahun berikutnya, 1985, K.H. Imam Zarkasyi pun pergi menghadap Ilahi menyusul kedua kakaknya. Sepeninggal Trimurti tongkat estafet kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor diserahkan kepada generasi kedua. Kepemimpinan Generasi Kedua DALAM sidang pertamanya, sepeninggal Trimurti, Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor menetapkan tiga Pimpinan Pondok untuk memimpin Gontor paska Trimurti. Ketiga Pimpinan itu adalah K.H. Shoiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA., dan K.H. Hasan Abdullah Sahal. Untuk menangani KMI, Badan Wakaf menetapkan K.H. Imam Badri sebagai Direktur KMI. Awal kepemimpinan Generasi Kedua diliputi oleh kekhawatiran dan keraguan akan nasib Pondok Modern Darussalam Gontor sepeninggal Generasi Pertama. Tetapi berkat tekad yang bulat, niat yang mantap, dan perjuangan yang tak kenal menyerah; dengan semboyan “Labuh bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane” serta tawakkal kepada Allah SWT; Generasi Kedua berhasil melalui segala ujian dan rintangan untuk mempertahankan, mengembangkan, dan memajukan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Banyak kemajuan yang telah dicapai oleh Pimpinan Pondok dari Generasi Kedua ini; baik fisik maupun non fisik. Pembentukan PLMPM Salah satu orientasi pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah kemasyarakatan. Para santri dicetak untuk menjadi pejuang Islam yang mandiri di masyarakat. Kenyataannya, perkembangan iptek dan meluasnya informasi di segala sektor kehidupan menimbulkan perubahan sosial yang cepat di masyarakat, sehingga menimbulkan jarak antara kesiapan individu santri dengan tuntutan lingkungannya. Perkembangan dan perubahan zaman ini telah diantisipasi oleh Pondok melalui berbagai cara dan program. Di antaranya adalah dengan mendirikan Pusat Latihan Menejemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM), tahun 1988, yang dirancang khusus bagi alumni KMI dan ISID yang memang betul-betul akan terjun langsung ke masyarakat. Di lembaga ini para alumni itu diberi bekal tambahan untuk menyempurnakan dan mempercepat karya mereka di masyarakat. 2. Pembukaan Pesantren Putri. Di antara wujud kemajuan yang dicapai Generasi Kedua adalah keberhasilannya merealisasikan amanat Trimurti dan melaksanakan Keputusan Badan Wakaf untuk mendirikan Pesantren Putri. Pesantren yang didirikan di Sambirejo, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur ini dibuka secara resmi tanggal 31 Mei 1990 oleh Menteri Agama R.I. Munawwir Syadzali dengan didampingi oleh Duta Besar Mesir untuk Indonesia.

Peringatan Delapan Windu Perkembangan dan kemajuan ini kemudian disyukuri dengan mengadakan Peringatan Delapan Windu yang berlangsung tanggal 3 Juni-20 Juli 1991. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan dan dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, para cendekiawan dan akademisi, para kyai pimpinan pondok pesantren, para pejabat tinggi pemerintah baik sipil maupun militer, dan para duta besar perwakilan negara-negara sahabat. Hampir seluruh pimpinan Ormas Islam ikut hadir dalam acara ini, dan pada acara puncak Peringatan ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI Sudharmono, S.H. beserta rombongan. Peringatan 70 Tahun Enam tahun kemudian, 1997, Pondok menyelenggarakan Peringatan 70 Tahun. Acara ini berlangsung sukses meskipun tidak semeriah Peringatan Delapan Windu. Puncak acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno beserta beberapa pejabat tinggi negara lainnya. Pendirian Pondok-Pondok Cabang Mengingat tingginya animo masyarakat untuk memasukkan anaknya di Gontor dan keterbatasan fasilitas yang tersedia di Kampus Pondok Modern Darussalam Gontor serta untuk memberikan bekal yang lebih baik kepada para calon santri yang ingin masuk di Pondok Modern Darussalam Gontor, dibukalah cabang-cabang Gontor di beberapa tempat: Pondok Modern Gontor 2, di Madusari, Siman, Ponorogo, tahun 1996; Pondok Modern Gontor 3 “Darul Ma’rifat” di Sumbercangkring, Gurah, Kediri, tahun 1993; Pondok Modern Gontor 4, yaitu Pesantren Putri Gontor di Sambirejo, Mantingan, Ngawi, tahun 1990; Pondok Modern Gontor 5 “Darul Muttaqin” di Kaligung, Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1990; Pondok Modern Gontor 6 “Darul Qiyam” di Gadingsari, Mangunsari, Sawangan, Magelang, tahun 1999; dan Pondok Modern Gontor 7 “Riyadlatul Mujahidin”, di Podahua, Landono, Sulawesi Tenggara, tahun 2002; Pondok Modern Gontor 8 dan Pondok Modern Darussalam Gontor 9 di Lampung; serta Pondok Modern Gontor 10 “Darul Amin”di Aceh Di samping itu juga dibu Pondok Modern Gontor Putri 2 pada tahun 1997 dan Pondok Modern Gontor Putri 3 pada tahun 2002, menyusul berikutnya Pondok Modern Gontor Putri 4 di Kendari dan Pondok Modern Gontor Putri 5 di Kandangan, Kediri. Estefet Kepemimpinan Pada Generasi Kedua Pada awal tahun 1999, suasana duka menyelimuti Pondok Modern Darussalam Gontor; K.H. Shoiman Luqmanul Hakim, salah seorang Pimpinan Pondok, pulang ke rahmatullah.

Untuk menggantikan posisi beliau sebagai Pimpinan Pondok, Badan Wakaf menunjuk K.H. Imam Badri. Pendirian Gontor 6 Darul Qiyam Magelang Pondok Modern Darussalam Gontor mendapat wakaf tanah 2,3 hektar beserta 1 masjid dan 1 Unit rumah dari Hj. Qayyumi, istri dari bapak KH. Kafrawi Ridwan, MA, di dusun Gadingsari desa Mangunsari kecamatan Sawangan kabupaten Magelang. Berdasarkan keputusan Badan Wakaf yang ke-46, didirikanlah Gontor VI di atas lokasi tanah wakaf tersebut. Pada tanggal 22 Februari 2000, dibuka secara resmi Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah “Darul Qiyam” Magelang oleh DIRJEN BIMBAGA ISLAM DEPAG RI, Dr. H. Marwan Saridjo. Kampus Gontor Putri 2 Pada tanggal 5 Muharram 1422/ 1 April 2001 mulai dibangun kampus Gontor Putri II. Sejak tahun1997 Gontor Putri 2 masih menjadi satu dengan Kampus Gontor Putri I. Kampus Gontor Putri II berlokasi di sebelah barat kampus Gontor putri I, di atas tanah seluas 10 hektar. Secara simbolis penggunaan kampus Gontor Putri 2 diresmikan oleh presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 14 Februari 2002, ketika berkunjung ke Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo.

Gontor Buka Cabang di Kendari Pada tanggal 24 Rabiul Tsani 1423 / 5 Juli 2002 di Kendari diadakan kesepakatan bersama antara pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara sebagai pihak I yang diwakili oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Drs. H. La Ode Kamaimoedin dengan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur sebagai pihak ke II yang diwakili oleh KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, tentang; pendirian dan pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor VII “Riyadatul Mujahidin” Pudahoa, Landono, Kendari, di atas tanah seluas 1000 hektar milik pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara. Untuk selanjutnya pengelolaan dan tanggungjawab serta peningkatan mutu Pondok Modern Darussalam Gontor VII Riyadatul Mujahidin sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus Gontor Putri III di Karangbanyu Setiap tahun jumlah calon pelajar yang hendak belajar di Pondok Gontor Putri kian bertambah, sehingga 2 kampus yang telah disediakan itu dianggap tidak lagi dapat menampung mereka.

Maka pada awal bulan Oktober 2002, telah dimulai pembangunan kampus Gontor Putri III di Desa Karangbanyu Kec. Widodaren, di atas tanah seluas 10 hektar. Pada tahun ajaran 1423/2003 ini, Pondok Gontor Putri III telah melahirkan alumni perdananya. [] Sumber: http://gontor.ac.id/ — “…menyembah yang maha esa, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, mengasihi sesama…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2012 in Umum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: